Selasa, 07 Mei 2013

MEMBUAT RAMUAN PESTISIDA NABATI


Secara ekonomis, maka biaya pestisida nabati yang dikeluarkan petani relatif lebih ringan dibanding pestisida sintetis, di mana harga pestisida sintetis di era sekarang lebih mahal. Pestisida nabati/ alami diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita. Pestisida nabati relatif lebih mudah dibuat dan didapat oleh petani dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas. Dari sisi lain pestisida alami/ nabati, mempunyai keistemewaan yang bersifat mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Pestisida nabati bersifat lebih aman dan nyaman, yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh hama pada waktu itu (bersifat kontak) dan setelah hamanya terbunuh, maka residunya akan cepat menghilang di alam.
Dengan demikian, tanaman akan terbebas dari residu pestisida dan aman untuk dikonsumsi. Penggunaan pestisida nabati dimaksudkan bukan untuk meninggalkan dan menganggap tabu penggunaan pestisida sintetis, tetapi hanya merupakan suatu cara alternatif agar pengguna tidak hanya tergantung kepada pestisida sintetis dan agar penggunaan pestisida sintetis dapat diminimalkan, sehingga kerasakan lingkungan yang diakibatkannyapun diharapkan dapat dikurangi dan waktunya kerasakan lingkungan dapat diperlambat pula.
Kegunaan Pemakaian Pestisida Nabati : Untuk meminimalkan pemakaian pestisida sintetis sehingga dapat mengurangi kerasakan lingkungan; Untuk mengurangi biaya usahatani yang mana bahan pestisida nabati mudah didapat yang tumbuh di sekitar kita dan mudah dibuat oleh siapapun khususnya para petani; Tidak membahayakan kesehatan bagi manusia dan ternak peliharaan.
Manfaat Pestisida Nabati - Sebagai bahan kimia dari tumbuhan; Dapat digunakan sebagai agen pengendalian hama; Bersifat mematikan hama dengan cepat; Bersifat sebagai zat menghambat perkembangan serangga/hama; Bersifat sebagai zat pemikat; Bersifat sebagai zat penolak; Bersifat sebagai zat penghambat makan.
Ramuan Pestisida Nabatidan Aplikasinya
1.       Ramuan untuk mengendalikanhama wereng coklat
Bahan: daun sirsak 1 genggam; rimpang jeringau 1 genggam; bawang putih 20 siung; sabun colek 20 gram; air 20 liter.
Cara membuat - Daun sirsak, rimpang jeringau, bawang putih ditumbuk halus. Seluruh bahan dicampur dengan sabun colek kemudian direndam dalam 20 liter air selama 2 hari. Keesokan harinya larutan tersebut disaring dengan kain halus. Setiap 1 liter larutan hasil saringan dapat diencerkan dengan 10-15 liter air. Larutan pestisida inisiap digunakan untuk mengendalikan hama wereng coklat.
Aplikasi - Semprotkan cairan ke tanaman yang terserang hama wereng coklat. Hama ini biasanya terdapat di tanaman padi bagian batang bawah.
2.Ramuan untuk mengendalikan hama belalang dan ulat
Bahan : daun sirsak 50 lembar; daun tembakau 1 genggam; sabun colek 20 gram; air 20 liter.
Cara membuat - Daun sirsak dan daun tembakau ditumbuk halus. Seluruh bahan diaduk rata dalam 20 liter air lalu diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan disaring. Larutan hasil saringan diencerkan dengan air sebanyak 50-60 liter. Larutan siap digunakan.
Aplikasi - Semprotkan cairan tersebut ke tanaman yang terserang atau langsung pada hama yang terdapat di tanaman.
3.     Ramuan untuk mengendalikan hama wereng coklat, penggerek batang, nematoda   
Bahan : biji mimba 50 gram; alkohol 10 cc;  air 1 liter. 
Cara membuat - Biji mimba ditumbukhalus dan diaduk dengan 10 cc alkohol lalu diencerkan dengan 1 liter air. Larutan          diendapkan semalam. Keesokan harinya     larutan disaring.              
Apilkasi - Semprotkan cairan tersebut pada tanaman yang terserang hama atau pada
hamanya langsung. Hama tidak langsung mati segera setelah disemprot dengan larutan biji mimba, tetapi memerlukan waktu antara 2-3 hari baru mati.
4.Ramuan untuk mengendalikan hama Rodentia
Bahan : umbi gadung 1 kg; dedak padi/ jagung 10 kg; tepung ikan 1 ons; kemiri sedikit/secukupnya; air sedikit/secukupnya.
Cara membuat - Umbi gadung dikupas, lalu dihaluskan. Semua bahan dicampur, diaduk rata, dan dibuat dalam bentuk pelet kering. Perbandingan antara umbi gadung dan campuran bahan lain adalah 1 :10.
Aplikasi - Pelet-pelet dari umbi gadung tersebut ditebarkan di pematang, di sarang/ mulut lubang tikus atau di jalan-jalan yang biasanya dilewati tikus.
HAMA PADI: WERENG dan CARA PENANGGULANGANNYA
Jenis wereng
Hama wereng ada beberapa macam diantaranya yaitu wereng coklat, wereng hijau dan wereng loreng. Wereng coklat dalam bahasa latin disebut nilaparvata lugens. Sedangkan wereng hijau dalam bahasa latin di sebut Nephotettix virescens (Distant). wereng loreng dalam bahasa latin di sebut Recilia dorsalis.
Binatang ini sangat betah hidup di daerah yang lembab dan bersuhu sekitar 200c -300c, mempunyai siklus hidup antara 3-4 minggu yang dimulai dari telur (selama 7-10 hari), Nimfa (8-17 hari) dan Imago (18-28 hari). Serangga wereng dewasa berukuran panjang 0,1-0,4 cm. wereng dewasa bersayap panjang dapat menyebar sampai beratus kilometer.
Hama wereng ini menyerang padi mulai dari persemaian sampai padi mau panen, dengan cara menghisap cairan padi pada bagian pelepah daun.
Berikut adalah foto dari wereng coklat:
Berikut adalah foto dari wereng hijau:
Akibat yang ditimbulkan
Wereng coklat apabila menyerang tanaman padi, maka tanaman tersebut akan mengering pada satu lokasi secara melingkar di sebut juga hopper burn. Sedangkan wereng hijau dan wereng loreng adalah sebagai vector virus tungro. Dimana virus tungro ini merupakan penyebab penyakit kerdil rumput dan penyebab kerdil hampa pada tanaman padi. Tergantung saat penyebaran virus oleh wereng hijau tersebut. Apabila wereng tersebut menyebarkan virus tungro pada saat padi dalam kondisi masa pertumbuhan maka padi akan terkena penyakit kerdil rumput. Sedangkan apabila menyebarkan virus tungro pada saat sedang bunting maka padi akan terkena penyakit kerdil hampa.
Akibat-akibat yang disebabkan oleh jenis wereng ini bisa menyebabkan gagal panen (puso).
Berikut adalah poto hopperburn:
Musuh alami wereng
Di dalam ilmu biologi, alam selalu menjaga keseimbangannya dengan cara apa yang disebut rantai makanan. Begitu juga dengan wereng. Hama ini mempunyai musuh alami yang selalu menjaga populasinya agar selalu seimbang. Berikut ini adalah musuh alami dari wereng:
  • Laba-laba serigala (Pardosa pseudoannulata)
  • Laba-laba bermata jalang (Oxyopes javanus)
  • Laba-laba berahang empat (Tetragnatha maxillosa).
  • Kepik permukaan air (Microvellia douglasi)
  • Kepik mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
  • Kumbang stacfilinea (Paederus fuscipes)
  • Kumbang koksinelid (Synharmonia octomaculata)
  • Kumbang tanah atau kumbang karabid (Ophionea nigrofasciata)
  • Belalang bertanduk panjang (Conocephalous longipennis)
  • Capung kecil atau kinjeng dom (Agriocnemis spp.)
Langkah Pencegahan
Untuk mencegah serangan hama wereng perlu dilakukan beberapa tindakan. Diantaranya:
  • Bersihkan gulma,singgang dari sawah dan areal sekitarnya.
  • Hindari penggunaan pestisida secara tidak tepat yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami.
  • Gunakan varietas tahan wereng seperti Ciherang, Mekongga, dan Cigeulis.
  • Gunakan varietas tahan tungro seperti IR-50, IR-64, Citanduy, Dodokan, IR –66, IR-70, Barumun, kelara, memberamo, IR-36, IR-42, Semeru, Ciliwung , Kr. Aceh, Sadang, Cisokan, Bengawan , Citarum dan terakhir adalah serayu.
  • Jumlah kritis: pada kepadatan 1 wereng coklat/batang atau kurang, masih ada peluang menekan populasi.
  • Amati wereng di persemaian setiap hari, atau setiap minggu setelah tanam pindah pada batang dan permukaan air. Periksa kedua sisi persemaian. Pada tanaman yang lebih tua, pegang tanaman dan rebahkan sedikit dan tepuk dengan pelan dekat bagian basal untuk melihat kalau ada wereng yang jatuh ke permukaan air.
  • Gunakan perangkap cahaya waktu malam ketika terlihat ada gejala serangan wereng. Jangan tempatkan cahaya dekat persemaian atau sawah. Bila perangkap cahaya diserbu oleh berates wereng, berarti persemaian dan sawah perlu segera diperiksa; lalu amati setiap hari dalam beberapa minggu berikutnya.
  • Pupuk lengkap (NPK), dosis 250 kg urea, 100 kg
  • SP36, dan 100 kg KCl/ha dapat membantu upayaSP36, dan 100 kg KCl/ha dapat membantu upaya pencegahan
Langkah Pengendalian
Langkah pengendalian ini dilakukan setelah jumlah wereng per rumpun sudah melebihi ambang ekonomi. Untuk hama wereng ambang ekonominya yaitu 2-5 ekor per rumpun (tergantung masing-masing daerah, bila endemik bisa lebih rendah lagi). Apabila sudah melebihi ambang ekonomi tersebut, maka harus dilakukan penyemprotan yang bertujuan untuk menekan populasi hama wereng tersebut.
Jenis pestisida yang dianjurkan untuk mengendalikan hama wereng ini adalah insektisida yang berbahan aktif:
  • amitraz,
  • buprofezin,
  • beauveria bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml,
  • BPMC,
  • fipronil,
  • imidakloprid,
  • karbofuran,
  • karbosulfan,
  • metolkarb,
  • MIPC,
  • propoksur,
  • tiametoksam.
Ketika melakukan penyemprotan sebaiknya dimulai dengan membuka (“membiak”) antara barisan tanaman, kemudian menyemprot tanaman dengan mengarahkan semprotan ke bagian batang bawah.  Hal ini dilakukan karena biasanya wereng berada di bagian batang bawah.

Penyakit padi dan pengendaliannya

Gejala serangan hama dan penyakit penting seperti penggerek batang, wereng coklat, wereng hijau, hawar daun bakteri (HDB), blas dan sebagainya, harus diwaspadai agar dapat dilakukan pengendalian secara tepat sehingga tidak menimbulkan kerusakan berat dan bahkan kehilangan hasil panen.

Untuk mengurangi kerugian dari gangguan hama dan penyakit perlu ada strategi pengendalian yang betul-betul terencana. Sedangkan untuk hama wereng dan beberapa penyakit tertentu, perlu menggunakan varietas yang tahan seperti varietas Cisadane, Cisokan, Ciliwung, dll. Untuk mengurangi serangan hama yang muncul di lapangan perlu melakukan monitoring agar keberadaan hama sejak dini dapat diketahui dan bila perlu dilakukan pengendalian dengan aplikasi pestisida.

Sebagai contoh penyakit HDB, ini merupakan penyakit bakteri yang tersebar luas dan dapat menurunkan hasil sampai 36%. Penyakit dapat berjangkit pada musim hujan atau musim kemarau yang basa, terutama pada lahan sawah yang selalu tergenang. Gejala awal yang ditunjukkan adalah timbulnya bercak abu-abu kekuningan umumnya pada tepi daun. Dalam perkembangannya, gejala akan meluas membentuk hawar dan akhirnya mengering. Bakteri ini sangat mudah menyebar, dengan bantuan angin, gesekan antar daun dan percikan air hujan.

Dalam rangka mendukung program peningkatan produksi beras nasional (P2BN), informasi ini sangat membantu para pengamat hama dan penyakit tanaman pangan, penyuluh maupun petani untuk menambah pengetahuan, sehingga apabila di lapangan ditemukan permasalahan tentang hama dan penyakit tanaman padi, segera dapat diantisipasi dan dilakukan penanggulangannya

Hama dan penyakit merupakan cekaman biotis yang dapat mengurangi hasil dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen. Oleh karena itu untuk mendapatkan hasil panen yang optimum dalam budidaya padi, perlu dilakukan usaha pengendalian hama dan penyakit. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengendalian yang memperhitungkan faktor pengendalian ekologi sehingga pengendalian dilakukan agar tidak terlalu mengganggu keseimbangan alami dan tidak menimbukan kerugian besar. PHT merupakan paduan beberapa cara pengendalian diantaranya melakukan monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman sehingga penggunaan teknologi pengendalian dapat ditetapkan. Hama dan penyakit utama pada lahan sawah irigasi berturut –turut yaitu tikus, wereng coklat, penggerek batang, tungro, Hawar Daun Bakteri (HDB), dan keong mas.
  • Tikus Sawah
Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) didasarkan pada pemahaman ekologi jenis tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian diprioritaskan awal tanam (pengendalian dini) untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadia generatif padi. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi secara luas (hamparan).

Langkah – langkah pengendalian:
  1. Menerapkan pola tanam yang teratur dan waktu tanam yang serempak (tidak lebih dari 2 minggu)
  2. Periode bera/pengolahan tanah. Dilakukan gropyokan massal atau berburu tikus oleh semua anggota kelompok tani. Kegiatan tersebut dapat berupa pembongkaran sarang tikus pada habitat utama seperti tanggul irigasi, jalan, rel kerata api, lahan kosong dan lainnya. Apabila populasi tikus sangat tinggi dapat digunakan rodentisida, baik jenis akut atau antikoagulan sesuai anjuran.
  3. Periode persemaian. Pada daerah endemik tikus, persemaian padi agar dilindungi pagar pelastik dan dipasang dua bubu perangkap untuk persemaian berukuran 10 m x 10 m. Pada musim kemarau disarankan dipasang bubu perangkap (Trap Barrier System = TBS) ukuran 15 m x 15 m untuk setiap 15 ha ditetapkan di dekat habitat utama tikus dan dilakukan pengambilan tangkapan tikus setiap hari sampai panen.
  4. Periode padi vegetatif. Sanitasi gulma pada habitat tikus, baik yang ada di hamparan sawah maupun di sekitar sawah agar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Dilakukan pengendalian secara mekanis, rodentisida bila populasi masih tinggi, pasang (Linier Trap Barrier System = LTBS) di dekat habitat utama dan dipindahkan setiap 5 hari, serta lakukan fumigasi sarang tikus.
  5. Periode padi generatif. Lakukan fumigasi asap belerang pada setiap sarang aktif tikus, sanitasi gulma pada habitat utama dan pasang LTBS di dekat habitat utama secara periodik.
  • Wereng Coklat
Langkah – langkah pengendalian:
  1. Gunakan varietas tahan wereng coklat berdasarkan biotipe di wilayah sebagai acuan lihat di deskripsi varietas.
  2. Gunakan berbagai cara pengendalian mulai dari penyiapan lahan, tanam teratur (jajar legowo), pengairan intermitten, takaran pupuk sesuai BWD. Monitor pertanaman paling lambat 2 minggu sekali, untuk mengetahui tingkat predator dan hamanya supaya tetap seimbang.
  3. Bila perkembangan hama wereng terus meningkat (hubungan musuh alami dan hama tidak seimbang):
  4. Bila populasi hama di bawah ambang ekonomi gunakan insektisida botani atau jamur ento-mopatogenik (Metarhizium annisopliae atau Beauveria bassiana)
  5. Bila populasi hama di atas ambang ekonomi gunakan insektisida kimiawi yang direkomendasi.
  • Penggerek Batang Padi
Langkah – langkah pengendalian:
  1. Ada 6 spesies penggerek batang yang menjadi hama padi, 4 diantaranya merupakan spesies yang paling banyak dijumpai dan dominasinya tergantung pada daerah penyebarannya.
  2. Hama ini harus diamati intensif sejak persemaian sampai dengan panen. Kalau populasi tinggi dapat diberantas dengan insektisida butiran (karbofuron, fipronil) dan insektisida cairan (dimehipo, bensultap, amitraz dan fipronil).
  3. Insektisida butiran diaplikasi bila genangan air dangkal dan insektisida cair disaat genangan air tinggi. Insektisida cair diaplikasikan pada fase generatif apabila populasi tangkapan ngengat 100 ekor/minggu pada perangkap feromon, atau 300 ekor/minggu pada perangkap lampu.
  4. Penangkapan ngengat jantan dengan memasang perangkap feromon 9-16 perangkap setiap hektar atau mengamati spesies dominan..
  5. Saat panen, tunggul jerami dipotong rendah supaya hidup larvanya terganggu.
  • Keong mas
Pengendalian yang paling utama ialah mencegah introduksi keong mas pada areal baru. Apabila keong masuk ke dalam areal sawah baru, akan berkembang cepat terutama pada lahan yang selalu tergenang dan akan sukar dikendalikan. Pengendalian keong mas, sebaiknya dilakukan dengan berbagai cara pengendalian secara terpadu (PHT) dan berkesinambungan. Walaupun tanaman sudah besar (lebih dari 30 hari), pengendalian harus tetap dilaksanakan. Hal tersebut untuk mencegah serangan pertanaman musim berikutnya dan juga di lahan sawah sekitarnya. PHT pada keong mas dilakukan sepanjang pertanaman dengan rincian sbb:

Pra-tanam
Mengambil keong mas dan memusnahkan sebagai cara mekanis.Persemaian
  1. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  2. Menyebar benih lebih banyak untuk sulaman
  3. Membersihkan saluran air dari tanaman air seperti kangkung
Stadia vegetatif
  1. Pemupukan P dan K dilakukan sebelum tanam
  2. Menanam bibit yang agak tua (lebih dari 21 hari ) dan jumlah bibit lebih banyak
  3. Mengeringkan sawah sampai 7 hari setelah tanam
  4. Tidak aplikasi herbisida sampai 7 hari setelah tanam
  5. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  6. Mengumpan dengan menggunakan daun talas dan pepaya
  7. Memasang ajir agar siput bertelur pada ajir dan telurnya dimusnahkan
  8. Mengambil dan memusnahkan telur siput pada tanaman
  9. Aplikasi pestisida anorganik atau nabati seperti saponin dan rerak sebanyak 20 sampai 50 kg/ha yang diaplikasikan sebelum tanam, sebaiknya dilakukan pada caren agar bahan pestisida dapat dihemat.
Stadia generatif dan setelah panen:
  1. Mengambil keong mas dan memusnahkan
  2. Menggembalakan itik setelah padi dipanen
  • Penyakit tungro
Langkah – langkah pengendalian:
  1. Usahakan tanam serentak minimal 20 ha
  2. Gunakan varietas tahan virus tungro atau tahan serangga penular wereng hijau
  3. Buat persemaian setelah lahan dibersihkan. Buang tanaman padi yang terinfeksi agar tidak menjadi sumber virus.
  4. Tanam Jajar Legowo
  5. Kendalikan serangga wereng hijau penular virus dengan insektisida kimiawi yang direkomendasikan bila saat tanaman umur kurang dari sebulan setelah tanam ditemukan 1 tanaman terserang dari 1.000 rumpun tanaman.
  6. Sawah jangan dikeringkan.
  • Penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB)
  1. Gunakan pupuk N tidak berlebih tetapi sesuai kebutuhan tanaman
  2. Gunakan varietas tahan
  3. Lakukan rotasi tanam.
Sumber : Petunjuk Teknis Lapang PTT Padi Sawah Irigasi – Kumpulan Informasi Teknologi Pertanian Tepat Guna – Badan Litbang Pertanian 2007




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar